ANALISIS IMPLEMENTASI MODEL MANAJEMEN KINERJA KARYAWAN PADA INDUSTRI MANUFACTURE GARMENT (STUDI KASUS PT. MAKMUR JAYA)

ANALISIS IMPLEMENTASI MODEL MANAJEMEN KINERJA KARYAWAN PADA INDUSTRI MANUFACTURE GARMENT (STUDI KASUS PT. MAKMUR JAYA)   

MIRNA
EMAIL. mirnamiskandar2@gmail.com

ABSTRAK
Kinerja karyawan yang baik diperusahaan, perusahaan akan mengalami kondisi yang sangat memperihatinkan sehingga akan mengganggu stabilitas keuangan perusahaan. Meningkatkan kondisi pengangguran karyawan dalam melakukan pekerjaaan, dan insentif karyawan untuk pindah (turn over) tinggi. Namun, manajemene kinerja karyaawan adalah hal yang sangat sulit dilakukan jika perusahaan tidak memiliki manajemen yang baik dalam mengelolah kinerja PT. Makmur jaya yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidan garmen industri dam merupakan perusahaan yang memproduksi produk-produk berupa pakaian dengan ekspor oriental. Jadi untuk menghasilkan sejumlah produk manajemen perlu dilakukan untuk karyawan yang memacu kinerja karyawan untuk mencapai target yang telah ditentukan. Memberikan umpan balik kompensasi dalam bentuk gaji, tunjangan, bonus dan insentif yang disesuaikan dengan kinerja yang telah dilakukan. Sehingga diharapkan bahwa penerapan manajemen kinerja yang baik di perusahaan akan dapat menciptakan lingkungan kinerja yang dinamis dengan kemampuan menghasilkan produk yang mampunbersaing di era globalisasi yang pada akhirnya akan mampu mencapai kelangsungan hidup organisasi atau perusahaan.

PENDAHULUAN  
Perkembangan pasar global yang terus berjalan  saat ini begitu pesat, kondisi ini memberikan peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan manufaktur garment untuk dapat bertahan dalam menjalankan usahanya. Dalam persaingan yang semakin ketat diperlukan suatu pengelolaan perusahaan dengan cara yang baik menuju daya saing perusahaan yang handal. Keberhasilan manjemen dalam menentukan arah dan tujuan starategis perusahaan sangat mempengaruhi perusahaan. Tercapainya tujuan perusahaan tidak lepas dari kemampuan manajemen untuk melaksanakan fungsi perencanaan, pengorganisasian, Actuating dan pengendalian (Controlling) atau fingsi POAC  dari berbagai aktivitas dan sumber daya yang dimiliki perusahaan, termasuk finansial perusahaan.   Kebehasilan pengelolan sumber daya perusahaan akan mencerminkan keberhasilan perusahaan dapat menuncang pencapaian pendapatan atau revenue. Sehingga akan mempunyai kemampuan dalam mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.  Faktor kinerja dari dari karyawan adalah merupakan  bagian yang akan mamampuan menopang dan mendukung pencapaian hasil yang maksimal. Tanpa adanya kinerja karyawan yang baik dalam perusahaan maka perusahaan tersebut akan mengalami kondisi dengan kestabilan keuangan perusahaan yang tidak kondusif yang akan mengganggu berjalannya operasional perusahaan, terjadi ketidaktenangan karyawan dalam melakukan kerja, serta adanya dorongan karyawan untuk pindah (turn Over) yang tinggi.  Demikian juga dengan PT. Makmur jaya  yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang indusutri garment yang berlokasi di Kawasan Berikat Nusantara Cakung Jakarta, merupakan perusahaan dengan Penanam Modal Asing (PMA) yang berbasis padat karya.. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang menghasil produk berupa pakaian jadi  dengan orientasai pasar eksport. Dengan kapasitas eksport sebesar 1.200.000 pieces perbulan dengan kapasitas produksi terpasang  4800 pieces perhari. Perusahaan ini menggunakan sistem kerja secara berkelompok untuk menghasilkan jumlah produksi  terutama yang berada dibagian jahit dengan jumlah 10 line dengan jumlah karyawan perline 40 orang.  PT. Makmur jaya  ini terdiri dari bagian produksi dan Staff, Dimana untuk bagian produksi meliputi warehouse, Cutting, Sewing, Finising, Packing, Mekanik (Umum) dan Purchasing. Sedangkan untuk bagian staff terdiri dari Accounting, HRD, Export Import dan Marketing Dalam pengelolan untuk mencapai hasil target produksi PT. Makmur jaya ilah sering sekali mengalami kendala yaitu tidak mampu mencapai hasil yang telah ditargetkan sehingga terjadi over time yang berdampak pada penambahan biaya, keterlambatan pengiriman barang ke pembeli, dan sebagai akibat selanjutnya terjadi hubungan yang kurang baik atau kepercayaan pembeli menjadi berkurang. Banyak barang yang rusak (rejeck) yang berakibat banyak terbuang  (waste). Hal ini diakibatkan sering terjadi karyawan dalam satu bagian tidak hadir sehingga akan mengganggu proses alur produksi dalam bagian tersebut serta dengan buruknya komunikasi antar bagian.  Dari permasalahan  yang timbul tersebut  adalah akibat lemahnya kinerja karyawan, kurang rasa memiliki perusahaan dan kurangnya perhatian atau kontrol dari pimpinan atau manajer yang ada diperusahaan tersebut. Manajer atau pimpinan perusahaan hanya memperhatikan faktor pencapaian akhir saja tanpa melihat proses pencapaian target. Sehingga karyawan hanya dianggap sebagai faktor tenaga kerja saja bukan merupakan asset perusahaan (Human Capital). Menurut Davenport (Davenport, 2000) menyebutkan bahwa pekerja tidak boleh diperla- kan sebagai aset pasif yang dibeli, dijual dan diganti sekehendak pemilik. Untuk perlu adanya Perbaikan kinerja perusahaan dilakukan dengan mengevaluasi kinerjanya terlebih dahulu.   Menurut Ittner dkk (Ittner, Larcker & Randall, 2003) mengatakan bahwa sistem pengukuran kinerja se bagai kunci pengembangan rencana strategis, alat evaluasi pencapaian tujuan organisasi, dan kompensasi manajer. Sistem pengukuran kinerja merupakan rangkaian ukuran kinerja yang digunakan untuk menguantifikasi efisiensi dan efektifitas tindakan perusahaan (Neely, 2014)   Fenomena tersebut dipengaruhi oleh kondisi lingkungan internal dan eksternal perusahaan serta kondisi tiap individual tersebut, bagaimana karyawan akan menunjukkan loyalitasnya terhadap perusahaan dan bagaimana strategi perusahaan dalam mengatur dan membuat regulasi untuk menjaga kinerja karyawan agar tujuan perusahaan dapat tercapai.  

Kinerja 
Menurut Bangun (Bangun, 2012)  merupakan suatu hasil kerja yang telah diperoleh individu berdasar pada syarat pekerjaan tersebut. Sedangkan menurut Mangkunegara (Mangkunegara,2009) menjelaskan kinerja sebagai hasil baik secara kualitatif dan kuantitas yang sudah digapai oleh karyawan dalam melaksanakan tanggung jawabnya terhadap perusahaan. Untuk menentukan kinerja yang baik perusahaan membuat standar pekerjaan yang telah diputuskan bersama.   Menurut Bangun (Bangun,2012)  Standar kinerja adalah suatu indikator yang dibandingkan dengan suatu pekerjaan yang dilakukan atas tujuan atau target yang ingin dicapai. Dengan standar pengukuran 
kinerja karyawan terdiri dari sebagai berikut:  a) Kuantitas, yaitu indikator yang diukur berdasar pada jumlah pekerjaan baik berupa banyaknya target atau hasil produksi. b) Kualitas, yaitu indikator yang diukur berdasar pada standar mutu yang sudah ditetapkan perusahaan., seperti kepuasan, kenyamanan.  c) Ketepatan waktu, yaitu indikator yang diukur pada ketepatan waktu pekerjaan yang dilakukan.  Penilaian kinerja dapat dilakukan oleh pihak atasan, bawahan, rekan kerja maupun dirir sendiri (selfappraisal. Menurut Mathis dan Jackson (Mathis & Jackson, 2002)  menjelaskan bahwa penilaian diri sendiri dilakukan dalam beberapa kondisi tertentu. Secara umum, hal ini merupakan alat pengembangan diri yang memaksa karyawan untuk memikirkan kekuatan dan kelemahan mereka dan menetapkan tujuan untuk pengembangan diri. 

Manajemen Kinerja 
Merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan karyawan agar bisa mencapai kinerja yang optimal. Manajemen kinerja mempunyai tujuan untuk  meningkatkan kinerja dalam mencapai produktifitas, secara efektifitas, dan efisiensi sesuia  standar dan prosedur operasional yang berlaku untuk  mencapai hasil yang optimal sessuai tujuan yang telah ditetap. Dalam dunia kerja, manajemen kerja merupakan satu langkah penting yang harus diimplementasikan untuk meraih sukses. Setidaknya, ada beberapa alasan utama mengapa manajemen kinerja sangat dibutuhkan keberadaannya. Antara lain untuk meningkatkan skill karyawan, mengembangkan karir, meningkatkan kinerja karyawan serta penghasilannya, sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi karyawan serta dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan produktifitas karyawan. 

Model Manajemen Kinerja 
1.  Model Deming Deming menjelaskan proses manajemen kinerja dimulai dengan menyusun rencana, melakukan tindakan pelaksanaan, memonitor jalannya dan hasil pelaksanaan, dan akhirnya melakukan review atau peninjauan kembali atas jalannya pelaksanaan dan kemajuan pekerjaan yang telah dicapai. (Armstrong, 2010)  
2. Model Torrington dan Hall Torrington dan Hall menggambarkan proses manajemen kinerja dengan merumuskan terlebih dahulu harapan terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan dari suatu kinerja. Kemudian, ditentukan  dukungan yang diberikan  terhadap kinerja untuk mencapai tujuan. Sementara itu, pelaksanaan kinerja berlangsung dilakukan peninjauan kembali dan penilaian terhadap kinerja. Langkah selanjutnya melakukan pengelolaan terhadap standar kinerja. Standar kinerja harus dijaga agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai. (Wibowo, 2009)  
3. Model Costello Proses manajemen kinerja dikemukakan oleh Costello dalam bentuk siklus. Siklus dimulai dengan melakukan persiapan perencanaan sehingga dapat dibuat suatu rencana dalam bentuk rencana kerja dan pengembangan. Untuk meningkatkan kinerja, diberikan coaching pada sumber daya manusia dan dilakukan pengukuran kemajuan kinerja. Peninjauan kembali selalu dilakukan terhadap kemajuan pekerjaan dan apabila diperlukan dilakukan perubahan rencana. Coaching and review  dilakukan secara berkala dan pada akhir tahun dilakukan penilaian kinerja tahunan dan dipergunakan untuk meninjau kembali pengembangan. Akhirnya, hasil penilaian tersebut dipergunakan untuk mempertimbangkan penggajian dan menjadi umpan balik untuk rencana akhir tahun berikutnya. (Wibowo, 2009)    
4.Model Armstrong dan Baron.  Armstrong dan Baron dalam Irham Fahmi (Fahmi,2012)  mengemukakan bahwa  siklus manajemen kinerja sebagai sekuen atau urutan. Proses manajemen kinerja merupakan serangkaian aktivitas yang dilakukan secara berurutan agar dapat hasil yang diharapkan. a. C orporate mission and strategic (Misi Organisasi dan Tujuan Strategis) b. Business and departemental plans and goals c. Performance Contract/Kontrak Kinerja (Kesepakatan Kinerja dan Pengembangan ) d. Rencana Kinerja dan Pengembangan  e. Tindakan Kerja dan Pengembangan f. Monitoring dan Umpan Balik berkelanjutan g. Review Formal dan Umpan Balik;  h. Penilaian Kinerja Menyeluruh  
5. Model Ken Blanchard dan Gary Ridge Model Manajemen Kinerja yang dikemukakan Ken Blanchard dan Garry Ridge Blanchard (Blanchard ,2009)  cukup sederhana, dan mereka menyebutnya sebagai sistem terdiri dari 3 bagian, yaitu Performance Planning (perencanaan kinerja), Day-to-Day Coaching (coaching setiap hari)atau Execution (pelaksanaan), dan Performance Evaluation (evaluasi kinerja) atau Review and Learning (peninjauan ulang dan pembelajaran). 

METODOLOGI PENELITIAN 
Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi 1. Metode Observasi Mengumpulkan data dengan cara mengamati langsung yang menyangkut proses kegiatan yang ada dalam lingkungan perusahaan PT. Makmur jaya  2. Metode Wawancara Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam bentuk tanya jawab secara langsung dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Manajer Operational PT. Makmur jaya Ibu indah untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan kegiatan yang berhubungan dengan model manajemen kinerja karyawan berjalan dalam perusahaan. 3. Metode Studi Pustaka  Memperoleh data dengan mempelajari dokumendokumen, buku, juranal dan artikel   yang relevan dengan permasalahan yang sedang diamati Analisis Data, Tujuan analisis data kualitatif adalah mencari makna dibalik data yang ada yang diperoleh. Kemudian dilakukan proses analisis dengan cara mengorganisasikan data, yang terkait dan memilah-milah data yang relevan dengan tujuan penelitian, mensintesiskan data yang ada, mengungkap kaitan data yang ada secara jelas sehingga bermakna, dan inilah yang merupakan hasil penelitian yang diharapkan memberikan gambaran yang terkait dengan Implementasi Model Manajemen Kinerja Karyawan Pada PT. Makmur jaya yang telah dilaksanakan. 

HASIL DAN PEMBAHASAN 
3.1. Implementasi Model Manajemen Kinerja   Manajemen kinerja merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan karyawan agar bisa mencapai kinerja yang optimal. Manajemen kinerja berfungsi untuk meningkatkan produktifitas, efektifitas, dan efisiensi kinerja berdasarkan standar operasional prosedur yang berlaku agar mencapai hasil yang optimal.  Dalam dunia kerja, manajemen kinerja merupakan satu langkah penting yang harus diimplementasikan untuk meraih sukses. Setidaknya, ada beberapa alasan utama mengapa manajemen kinerja  sangat dibutuhkan keberadaannya antara lain untuk meningkatkan skill karyawan, mengembangkan karir, meningkatkan kinerja karyawan serta penghasilannya, sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi karyawan serta dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan produktifitas karyawan.  Implementasi manajemen kerja, PT. Makmur jaya telah menerapkan model yang dikemukan oleh Deming(Armstrong, 2010) yaitu :

Planning.  
Dalam menentukan rencana kerja perusahaan menetapkan rencana jangka pendek yang berkaitan dengan order atau pesanan dari pihak pembeli . Dalam rencana kegiatan produksi dissuaikan dengan pemesanan pembeli (Buyer) Aktifitas yang dilakukan dalam tahap ini merupakan rencana yang hendak dicapai (goal setting) dari  perusahaan melalui teamwork diperusahaan ini, waktu yang diperlakukan untuk mencapainya serta strategi apa saja yang diperlukan untuk mencapainya target yang telah ditetapkan.  

Coaching.  
Coaching atau pelatihan di perusahaan dilakukan setiap hari untuk membecarakan masalahmasalah yang terkait dengan kegiatan di perusahaan . dengan melibatkan karyawan dilevel manajer dan supervisor setiap bagian yang diperlukan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh teamwork.   

Reviewing.  
Dalam tahap ini dilakukan penilaian terhadap kinerja yang telah dijalankan oleh teamwork. Dengan mengevaluasi terhadap kualitas atau mutu produksi perbagian. Team Quality Control yang akan mereview dengan melakukan pencatatan dan check terhadap hasil pekerjaan setiap teamwork. Manjemr dan marketing telah menyusun rencana itu secara saksama dan persiapan yang serius, terjadwal, serta analisis yang mendalam agar mampu mengukur sejauh mana prestasi kerja teamwork terhadap pencapaian target yang telah ditetapkan. 

Rewarding.  
Reward diberikan kepada tim yang memiliki kinerja baik dan mampu mencapai target yang telah ditentukan. Perusahaan ini selalu memberikan reward yang jumlahnya telah ditentukan sesuai rencana Dihitung berdasarkan prosentasi kelebihan hasil dari target 1 % dari nilai FOB produk yang team kerjakan. Sehingga diharapkan dengan reward ini akan mampu membangun teamwork yang solid dan bekerja secara optimal sehingga tercipta daya saing antara team dalam mencapai hasil yang telah tentukan. Masing-masing anggota tim juga merasa termotivasi sehingga siap memberikan prestasi kinerja terbaiknya. Bahkan mereka juga siap mengembangkan iklim kompetisi yang sehat karena adanya reward terhadap prestasi kerja yang telah mereka lakukan.   Implementasi manajemen kinerja dalam PT. Makmur jaya diharapkan mampu meminimalisasi kegagalan dalam mencapai target yang telah ditetentukan. Mereka pun siap mengerahkan segala skill dan kemampuannya untuk menghadapi segala tantangan dengan job description yang telah ditentukan. Manajemen kinerja diharapkan akan memberikan hasil yang optimal bagi  perusahaan dan membentuk teamwork yang solid yang akan  menumbuhkan keterbukaan, kepercayaan, dan komunikasi yang efektif sehingga akan mampu mencapai tujuan perusahaan. 

3.2. Bagian Produksi  Industri manufaktur adalah Sebagai industri yang terbilang cukup rumit dalam dunia bisnis, Sehingga untuk melakukan analisis terhadap manejemen kinerja PT. Makmur jaya  akan ditinjau dari kinerja bagian per bagian (teamwork) terutama dalam permasalah kinerja karyawan atau team yang berada dibagian produksi. Dalam perusahaan, 
karyawan adalah merupakan salah satu faktor  kunci yang dominan yang mempunyai pengaruh sangat berarti bagi keberhasilan perusahaan untuk menghasilkan outcomes yang telah direncanakan. Sehingga  keberhasilannya  akan sangat berpengaruh bagi tingkat keuntungan (revenue) perusahaan.  PT. Makmur jaya untuk bagian produksi dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:  
a. Bagian Gudang (Warehouse)         
Bagian gudang (warehouse)  adalah merupakan bagian penerimaan dari bahan baku yang menjadi bahan utama dalam proses produksi. Bahan baku atau raw material sendiri adalah satu dari sekian banyak jenis barang yang merupakan pendukung utama yang ada di dalam kegiatan produksi perusahaan, bersama dengan bahan penolong lainnya.  Karyawan bagian gudang merupakan ujung tombak dari perusahaan karena dibagian inilah semua barang yang ada baik bahan baku dan barang pelengkap produksi akan didistribusikan kebagian lain. Sehingga dari bagian inilah arus barang masuk dan keluar akan bisa terlihat dan dikendalikan. Bagian gudang inilah akan memberikan laporan yang terkait dengan persedian  bahan baku dan bahan penunjang lainnya.  Karyawan bagian gudang dituntut adanya kinerja yang benar-benar bagus terutama berhubungan dengan kontrol persediaan barang (Stock)untuk produksi dan mengontrol pemsukan bahan baku dan bahan penunjang lainnya sudah sesuai rencana yang telah ditetapkan atau belum seperti yang tercantum dalam   list bahan baku yang diorder dan jumlah. Kecepatan dan ketepatan informasi yang diberikan oleh bagian gudang akan sangat menentukan keberhasilan dalam proses produksi. Karena dari bagian ini akan sengat menentukan langkah selanjutnya dalam tahapan produksi dengan kapasitas sebagai target hasil dari kegiatan produksi yang akan ditetapkan.  
b. Bagian Potong (Cutting)  Bagian Cutting (Potong) adalah merupakan bagian dengan kinerja sangat baik, karena supervisor bagian ini telah paham dan mengetahui tentang schedule produksi yang telah ditetapkan. Bagian ini hampir tidak ada kelemahan atau kesalahan, hanya ada keterlambatan dalam proses pemotongan yang dikarenakan adanya pasokan bahan baku dari bagian gudang yang terlambat. Namun dengan kepala bagian dan admistrasi bagian yang mampu menkordinasikan dengan bawahan sehingga mampu menciptakan hubungan kerja yang sangat solid dalam mendukung untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan.   
c. Bagian Jahit (Sewing) Bagian sewing (jahit) merupakan bagian yang sangat vital dan ujung tombak dalam industri garment karena keberhasilan dari bagian jahit inilah akan mampu membawa dan menciptakan kualitas produksisuatu industry garmen  yang dihasilkan. Didalam bagian ini sistem kerja dibentuk secara teamwork atau linework. Dalam setiap line akan diisi oleh karyawan yang mempunyai kemampuan dan kopetensi dibidang jahit. Kinerja   masing-masing karyawan dalam menyeleseaikan pekerjaannya akan mendudukung keberhasilan line dalam mencapai target. Target line telah direncanakan sebelumnya sesuai kesepakatan dengan supervisor yang penentuan rencana target telah diperhitungkan sebelumnya melalui test trial and error.  d.  Bagian Finishing Karyawan bagian finshing ini adalah bagian dari perusahaan yang merupakan penyelesaian akhir dari pada system atau kegiatan proses produksi akhir yang ada perusahaan. Disinilah semua proses akan berakhir setelah melalui tahap warehouse (gudang), cutting(potong), Sewing (jahit) dan Quality Control (Inspeksi). Kinerja dibagian finishing sudah tinggi dan sangat solid, keberhasilan dari bagian ini sebgai kunci yang menentukan keberhasilan keseluruhan kegiatan dalam  memberikan pelayanan yang berhubungan dengan pemesanan barang  dari  konsumen atau buyer. Sehingga kita sepakat bahwa fungsi ideal dari pelaksanaan tugas karyawan bagian finishing adalah fungsi pelayanan, maka orientasi manajemen kinerja harus berfokus pada pelanggan.  

3.3. Bagian Staff Bagian staff dari PT. Makmur Jaya terdiri dari bagian keuangan, export import, marketing dan HRD. Kinerja bagian staff secara keseluruhan sudah bagus. Semua rencana yang telah dibuat kuat untuk membangun dan mendukung berjalannya perusahaan.  Karyawan bagian staff ini mendapatkan pengawasan langsung dari direktur sehingga semua permasalah dan kendala yang ada akan cepat diselesaikan dengan keterlibatan seorang pemimpin. Target dari karyawan staff adalah sesuai bidang  tugas dan pekerjaan masingmasing melakukan dukungan atas pelaksanaan kegiatan karyawan produksi diperusahaan untuk mencapai hasil yang maksimal dengan kelancaran proses arus barang masuk dan keluar untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Sehingga pelaksanaan manajemen kinerja dibagian ini sudah terlaksana dengan sangat baik karena karyawan staff sebagian besar mempunyai pengalaman sesuai pendidikan dan kopetensi yang dimiliki. 

3.4. Kelebihan dan kekurangan Implementasi Model Manajemen Kinerja  Pelaksanaan Manajemen Kinerja di PT. Makmur jaya  jika ditinjau secara keseluruhan dalam kegiatannya semua telah dijalankan dengan baik mulai dari perencaaan, pelaksanaan,serta  umpan balik yang diberikan oleh pihak perusahaan, Evaluasi dan perbaikan kinerja tetap dilakukan untuk semua bagian bila mana produktivitas bagian tersebut belum 
mencapai hasil yang maksimal. Namun kegiatan penilaian kinerja yang belum dilakukan oleh PT. Makmur Jaya adalah adanya punishment untuk karyawan atau bagian yang kinerjanya kurang bagus atau belum mampu mencapai hasil sesuai rencana dan belum menjalankan Standar Operasional Pelaksanaan (SOP). Kelebihan, Pada umumnya, dalam membangun kinerja karyawan, perusahaan akan memberi reward   pada setiap karyawan jika mampu mencapai kinerja baik dalam melakukan tugasnya. Sehingga diharapkan dengan reward tersebut dapat menjadi motivasi bagi karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. Dengan demikian kelebihan dalam implementasi model manajemen kinerja oleh PT. Makmur jaya  antara lain: 1. Karyawan dapat termotivasi untuk lebih baik apabila tidak menunjukkan hasil yang maksimal dalam team tersebut yang menyebabkan gagalnya pencapaian target team.  2. Kepuasan kerja karyawan dapat terus ditingkatkan karena adanya reward apabila mampu mencapai target produksi  3. Karyawan dapat mengetahui kelebihan dan kelemahannya, sehingga akan memperbaiki kelemahan dan meningkatkan kinerjanya dengan adanya coaching yang terus dilakukan oleh supervisor dan manajer   4. Terciptanya komunikasi dan hubungan yang harmonis antara atasan dengan bawahan yang akan mempu menciptakan rasa kekeluargaan untuk membangun rasa kebersamaan untuk mencapai tujuan perusahaan. 
Kekurangan, Penerepan manajemen kinerja yang telah dilaksanakan oleh PT. Makmur Jaya  mempunyai kekurangan antara lain: 1. Pelaksanaan penilaian kinerja hanya dilakukan berkaitan dengan kenaikan gaji karyawan saja  2. Belum mampu menciptakan komunikasi yang terbuka antar bagian karena masing masing hanya berorientasi pada target team.  3. Belum terbuka dalam memberikan laporan kendala yang dihadapi oleh team karena adanya rasa takut jika dinilai tidak mampu memimpin team oleh atasan. 4. Belum adanya punishment apabila tidak mampu mencapai target yang telah direncankan. Hanya diberikan tambahan waktu untuk menyelesaikan target tersebut, sehingga akan berakibat kerugian bagi perusahaan yaitu adanya biaya tambahan kerja lembur.  

3.5. Rekomendasi Untuk Meningkatkan Penerapan Manejemen Kinerja Untuk meningkatkan penerapan manejemen kinerja antar lain:
1. Perlu dilakukan pengawasan oleh pihak manajemen sehingga karyawan merasa ada yang memperhatikan.  2. Perlu ditingkatkan adanya komunikasi antar bagian secara baik dan transparan yang berkaitan dengan arus proses barang,   3. Hilangkan budaya saling menyalahkan antara bagian sehingga akan tercipta suasana yang kondusif dan nyaman,  4. 4.Perlu diberikan umpan balik  berupa punishment kepada karyawan atau bagian yang tidak mampu mencapai target sehingga akan ada efek jera  dan akan ada upaya untuk memperbaiki kinerjanya 

KESIMPULAN  
1. Implementasi model manajemen kinerja karyawan yang telah diterapkan   pada PT. Makmur Jaya sudah berjalan dengan baik namun perlu terus ditingkatkan untuk mencapai target produksi yang lebih tinggi dan sehingga akan mampu mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. 
2. Implementasi model manajemen kinerja karyawan pada PT. Makmur Jaya perlu terus dikembangkan untuk menjadikan budaya organisasi yang akan mampu menghadapi persaingan global dalam bisnis industri pakaian jadi.  

REFERENSI 
Amstrong, Michael. (2010). Human Resource Management. Great Britain and The United States: Kogan Page Limited   
Armstrong dan Baron dalam Irham Fahmi. (2012). Manajemen Kinerja. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada 
Bangun, Wilson. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga Dharma  
Blanchard, Ken, And Garry Ridge. (2009) Helping People Win at Work. New Jesrey: FT Press. 
Davenport, T.H, Prusak, L.2000. Working Knowledge: How Organization Manage What They Know. Boston: Harvard Business School Press. Ittner, C.D, Larcker, D.F. and Randall, T.  2003. Performance Implications of Strategic Performance Measurement  in Financial Service Firm, Accounting Organization, and Society, 28 th edition. Prentice Hall. 
Mathis dan Jackson, 2002, Manajemen  Sumber Daya Manusia. Terjemahan. Buku 1 Jakarta, Salemba Empat  
Neely, A., Gregory, M. and Platts, K. (2014), “Performance measurement system design: aliterature review and  research agenda”, International Journal of Operations & Production Management, Vol. 15 No.  4, pp. 80-116 
Wibowo. (2009). Manajemen Kinerja, edisi kedua. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa 

Komentar